Minggu, 10 April 2016

Tawuran berdarah Tjakrabirawa dan RPKAD bikin geger Jakarta

22.27
Resimen Tjakrabirawa dibuat 21 Juni 1962 untuk melindungi keselamatan Presiden Soekarno. Banyak kelebihan pasukan elite yang dibuat dari paduan empat angkatan ini. Satu diantaranya, Tjakrabirawa bukanlah ada dibawah Markas Besar TNI, namun segera dibawah presiden. Biaya operasionalnya juga segera diakukan rumah tangga kepresidenan. Seragam Tjakrabirawa di buat sedikit kecoklatan dengan baret warna merah bata.

Tidak sama dengan baju organik TNI waktu itu. Banyak yg tidak sukai dengan tampilan Tjakrabirawa. Beberapa anggota Resimen Beberapa Komando Angkatan Darat (RPKAD) umpamanya, mereka terasa Tjakrabirawa tidak layak kenakan baret merah. Maklum, bertahun-tahun baret merah sama dengan RPKAD yang telah menorehkan prestasi di beberapa palagan. " Bila ada Tjakra melalui jalan raya Bogor serta melalui Cijantung sukai disorakin sama anak-anak RPKAD, " kata Adi, seseorang pensiunan RPKAD mengingat hal itu waktu terlibat perbincangan dengan merdeka. com, Jumat (27/9). RPKAD serta Tjakrabirawa bahkan juga pernah ikut serta bentrok berdarah. Jakarta tegang oleh tingkah dua pasukan elite itu sekitaran th. 1964. Penyebabnya bentrok berdarah itu hanya permasalahan remeh. Pagi harinya Tjakrabirawa dari KKO serta RPKAD tengah berlatih baris berbaris di Lapangan Banteng.

 Sesudah latihan, anggota RPKAD belajar menyetir mobil. Tak tahu siapa yang mengawali mendadak ke-2 unit elite ini sama-sama ejek. Lantas berkembang jadi perkelahian. Lantaran tempat dekat dengan markas Marinir, RPKAD kalah jumlah. Mereka lantas mengontak kawan-kawan mereka di Markas RPKAD Cijantung. Tidak cuma gunakan sangkur, mereka semuanya memakai senapan serbu AK-47. Terdapat banyak yang menyandang bazooka serta siap menembak. Lokasi Kwini sampai Senen, Jakarta Pusat tidak gantinya seperti medan pertempuran. Komandan Batalyon I RPKAD Mayor Benny Moerdani baru pulang main tenis dari Senayan segera meluncur ke tempat peristiwa. Benny lihat beberapa puluh anggota RPKAD serta KKO tergeletak penuh darah di Tempat tinggal Sakit Pusat Angkatan Darat. Untungnya Benny kenal dengan Mayor Saminu, komandan Batalyon KKO Tjakrabirawa itu. Dia memohon tembak menembak dihentikan.

 Benny juga menyuruh semua anggota RPKAD pulang naik truk ke Cijantung. Aksi Benny menghindar jatuh korban jiwa semakin besar. Waktu itu RPKAD telah siap menembakkan bazooka, sesaat KKO telah siap memberondongkan AK-47 mereka. Banyak unit lain terasa iri dengan Tjakrabirawa lantaran diduga digaji lebih tinggi serta sejahtera. Walau sebenarnya menurut Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan, hal itu tak benar. " Bila upah itu dibayarkan dari unit. Contoh anggota Tjakrabirawa dari Yon 454, ya upahnya dibayarkan tetaplah dari Yon 454. Tak ada kesejahteraan lain. Di Tjakrabirawa itu ya hanya bertugas, " kata Saelan waktu terlibat perbincangan dengan merdeka. com. Masalah jalinan Resimen Tjakrabirawa dengan RPKAD yg tidak akur, Saelan mengaku memanglah ada yang iri lantaran berasumsi Tjakrabirawa lebih sejahtera. Namun selebihnya baik-baik saja.

 " Tjakra dikira istimewa, terlebih baretnya nyaris sama. Mereka anggap kita pasukan yang wah. Namun gw sendiri tidak ada permasalahan. Gw terjun di RPKAD, di Batujajar. Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo memohon gw melatih RPKAD main bola. (Saelan yaitu bekas penjaga gawang Timnas Indonesia yang pernah menahan Uni Soviet 0-0 di semi final olimpiade 1956), " tuturnya. Presiden Soekarno sendiri rupanya telah mencium bakal ada kecemburuan antarsatuan. Dalam pidatonya, Soekarno memohon Tjakrabirawa tidak butuh sombong. " Pekerjaan Resimen Tjakrabirawa tak lebih tinggi dari pekerjaan Angkatan Darat. Demikian sebaliknya, pekerjaan Angkatan Darat tak lebih tinggi dari pada pekerjaan Resimen Tjakrabirawa.

Janganlah ada satu diantara angkatan yang terasa dianya kian lebih angkatan lain, tak! " pesan Soekarno. " Seandainya saya berikan baju yang mentereng pada kompi protokol, itu tidak lain serta tidak bukanlah adalah masing-masing negara mesti memiliki barisan protokol yang mentereng. Datanglah ke negara manapun, barisan protokolnya senantiasa mentereng. Ia miliki baju bukanlah buat ganteng-gantengan, namun adalah untuk menjunjung tinggi nama negaranya, " lanjut Soekarno. Baca juga : Ini standard pengamanan Soekarno oleh Tjakrabirawa Ada Tjakrabirawa, Soekarno tidak dapat blusukan Kembali kenang Resimen Tjakrabirawa, pasukan elite pengawal Soekarno 'Anak muda mungkin saja katakan Pak Harto lebay di film G 30 S/PKI' Tjakrabirawa pada malam kelam 1 Oktober 1965

0 komentar:

Posting Komentar